Tuesday, December 7, 2010

EV/EBITDA: A short practical Valuation course

EV/EBITDA: A short practical Valuation course

Mumpung hari ini libur, embah mau ngasih short course yg bersifat praktek dengan topik: Valuasi dengan menggunakan metoda EV/EBITDA

Jika anda melihat research saham, tentu anda sering melihat ratio EV/EBITDA ini, rasio ini mirip PER tapi lebih canggih.

EV adalah Economic Value dan EBITDA adalah Earning Before Interest, Tax, Depreciation dan Amortisation.

Jika EV dibagi dengan EBITDA maka akan dihasilkan suatu ratio yg menunjukan BERAPA MURAH atau MAHAL suatu perusahaan atau istilahnya apakah suatu saham UNVERVALUE atau tidak.

Investor strategis umumnya menilai suatu perusahaan murah jika angka EV/EBITDA ini dibawah 6.

Dengan mengikuti kursus pendek ini anda akan mendapatkan:
- Konsep dan Pengertian mengenai Economic Value, EBITDA dan EV/EBITDA
- Mempelajari dalam bentuk praktek bagaimana cara menghitung dan mendapatkan angka2
yg diperlukan untuk menghitung ratio EV/EBITDA

Jadi sesudah mengikuti kurus ini, anda bisa menghitung EV/EBITDA sendiri dan menggunakannya dalam Valuasi saham sehari hari.

Or At least anda tidak bingung jika membaca angka EV/EBITDA yg sering ada pada reseach2 yg dibuat analis saham profesional.

Apa itu EV atau Enterprise Value: ?.

Enterprise Value adalah angka yg menunjukan besarnya Value dari suatu company atau FIRM's VALUE.

Bayangkan Enterprise Value EV sebagai harga TEORITIS dari suatu Company takeover, jadi EV mirip dengan Market Capitalisation.

Market Capitalisation adalah = Jumlah saham x Harga saham

Bedanya EV dan Market Capitalisation:
- Pada suatu Buyout/akuisisi, seorang investor harus membayar sebesar nilai
kapitalisasi pasar untuk mendapatkan company tsb.
- Tapi saat dia mendapatkan company tsb, dia juga mendapatkan DEBT atau Utang
perusahaan yg menjadi Kewajibannya.
- Disamping itu , dia juga mendapatkan CASH yg menjadi haknya.
- Jadi Enterprise value dihitung sebagai Market Capitalisation + Debt - Cash

Contoh:
- Harga ASII = Rp 52900
- Jumlah sahamnya = 4048 juta lembar
- Kapitalisasi Pasar = 4048M x 52900 = 214,1 T
- Debt = 28,4 T
- Cash = 8,6 T
- Enterprise value = Market Capitalisation + Debt - Cash
= 214,1 +28,3 - 8,6 = 233,8 T

Jadi harga teoritis jika ASII diTakeover pada suatu Buyout adalah = 233,8 T

Kalo diconvert ke lembar saham = 233,8T/4048M = 57769 perak, angka ini lebih tinggi dari harga sahamnya 52900 karena Debt perusahaan lebih besar dari Cashnya.

Embah lanjutkan dengan konsep EBITDA:

- EBITDA adalah singkatan dari Earning BEFORE Interest, Tax, Depreciation and
Amortisation.
- Jadi EBITDA = Net Profit + Interest + Tax + Depreciattion + Amortisation

EBITDA ini adalah konsep orang Finance jadi tidak diatur didalam Aturan Prinsip Akuntansi yg umum diterima.

Ada juga yg namanya EBIT yaitu Earning before Interest dan Tax.

Jadi EBIT = Net Profit + Interest + Tax

Tapi kita tahu bahwa:
- Operating profit - Interest - Tax = Net Profit

Jadi EBIT sebenarnya adalah Operating profit, a finance people's style... hehehe...

EBITDA juga bisa ditulis sebagai = Net profit + Depreciation + Amortisation.

Gimana ?, apakah sudah jelas mengenai EBITDA ?.

Kalo sudah jelas, embah akan lanjutkan dengan kenapa orang Finance ribet2 bikin konsep EBITDA ini ?. kenapa sih engga pake Net profit aja ?.

Shanti bener, Rumus komplit Enterprise Value adalah:

EV = Market capitalisation + Debt + Minority interest + Preferred shares - minus total cash and cash equivalents.

Tapi karena disini banyak yg tidak terlalu menguasai akuntansi dan finance, embah memulainya dari konsep yg SIMPLE dulu.

Yg anda tulis adalah pandangan seorang akuntan saat menyusun laporan Keuangan: Cash adalah asset dan debt atau piutang adalah liability.

Sedangkan EV adalah konsep Finance, dimana EV diartikan sebagai Harga TEORITIS yg harus dibayar oleh seorang Investor pada suatu Takeover/Buyout. Pada saat dia membayar maka dia akan mendapatkan perusasahan tsb BERIKUT Debt dan Cashnya.

Jadi EV = Market Cap + Debt - Cash.

Misal anda beli suatu perusahaan sebesat 10T, ketika perusahaan diserahkan maka anda akan mendapatkan Cash, say 1T, jadi uang yg dikeluarkan untuk takeover adalah 10 - 1 = 9T.
Tapi jika perusahaan punya debt 2T, maka sebenarnya diperlukan dana 2T tambahan untuk melunasi debt agar perusahaan tsb penuh milik anda.

Jadi FIRM's Value atau Enterprise value EV = 10 - 1 + 2 = 11 T.

Jadi EV ini adalah harga TEORITIS yg menunjukan CASH FLOW yg diperlukan untuk membuat perusahaan yg dibeli menjadi penuh milik anda.

Oke... as you wish...

Kenapa orang Finance menekankan pada Operating Profit: ?

Kita tahu: Net profit = Operating Profit - INTEREST - TAX

Orang accounting menekankan pada Net Profit/Net Income atau Laba bersih tapi orang Finance lebih menekankan pada Operating profit/Operating Income atau Laba operasi atau EBIT.

Ini dikarenakan Laba operasi BEBAS dari pengaruh besarnya TAX dan Bunga yg harus dibayar.

Kita tidak bisa menggunakan Net Profit untuk membandingkan Profitabilitas Operasionil perusahaan karena Net profit dipengaruhi oleh:
- Interest/bunga, setiap perusahaan mempunyai struktur permodalan yg berbeda, ada yg
menggunakan utang tinggi dan ada yg rendah. Pembayaran bunga yg berbeda ini akan
merusak akurasi pengukuran KEMAMPULABAAN perusahaan.
- Tax, stuktur Tax yg berbeda juga akan mengurangi akurasi pengukuran Profitibilitas
operasionil accross company and accross Region

Jadi Operating Profit atau EBIT sangat penting bagi orang Finance.

- Orang accounting menggunakan Net profit saat menghitung PER.
- orang finance menggunakan Operating profit saat menghitung EV/EBITDA.

Buat ngitung Valuasi saham, kita bisa gunakan dua duanya yaitu PER dan EV/EBITDA, tapi EV/EBITDA jauh lebih EMOY ... hehehe...

Nanti kita hitung sama sama EV/EBITDA ARNA, kenapa ARNA embah bilang Undervalue, ARNA is a SUPER pearl INDEED... hehehe...

Note:
- Embah engga punya ARNA tapi ini bukan buat kepentingan KETERBUKAAN yg suka ditulis
pak Irwan Ariston, ini karena masalah teknis doang... hehehe...

Pembahasannya nanti akan sampai kesana....

Finance is A TOUGH SUBJECT, makanya analis saham gajinya gede.
Jadi embah santai, sedikit demi sedikit, kalo engga nanti mabok...

Embah aja dulu mabok saat belajar EV/EBITDA, kemaren baca valuasi FCFE yg dikirim pak Bagus, bukan mabok lagi, ampir pingsan... hehehe..

Biar lambat, yg penting bisa ngerti...

Atau pada diem karena ENGGA JELAS ? atau TERLALU JELAS ?... hehehe...

Kalo udah sampe level begini, embah yg harus ikut kurus pak Bagus... hehehe...

Embah sih bisanya yg GAMPANG2 doang...

--------------------------------------
Bagus Putra Perdana wrote:

nimbrung ah, mumpung embah lagi bagi2 materi kuliah, saya bagi salah satu trik praktis yg biasa saya pake.. tapi makenya kalo udah ngerti filosofinya yah (pantengin kuliah embah sampe kelar dulu biar tau esensinya)


I got this dirty-trick for making an investment picture utilizing EV and Ebitda... kalo dalam bentuk yield jadi lebih gampang, anggep coupon equity vs Debt..

Ebitda minus Real Capital Spending minus incremental Working Capital, Divided by Enterprise Value... combined with Growth Profile of minimum 10 %-ish.. picture the balance sheet would look like within 3 years, what the current cash flows posture look like, and what type of multipe i should expect to materialize within 1-2 years. if the overall picture is more than 20 % annual return it might worth to take a further look...

here is the example ; ITMG deh yg predictable..

Ebitda 010-F 510 Mn USD, Ebitda 011-F 710 Mn USD...

Current Capital Spending approx 75-85 Mn USD annualy

Incremental Working Capital assuming linear turnover cycle would be around 10-15 Mn USD

EV is about 5875 Mn USD now..

Raw Free Cash Coupon would be ;

(510 + 710 ) / 2 : 610 Ebitda
(85) Capital Spending
(15) Incr Working Capital

Result : 510 Mn USD

EV : 5875 Mn USD

510 / 5875 = 8.69 %.. a slight point below 10 %, so its generally a good investment only priced at a bit expensive level now... (at around 10 % "coupon" it'd be a very good nod for further check..)

angka Ebitda yg dipakai biasanya tergantung mood, kadang analis suka me"roll-over" angka forward andai dia rasa angin sentimen ke arah suatu saham lagi bullish. biasanya kalo dia mo upgrade TP, pada kasus semacam ini kadang analis me roll-over angka yg dipakai simply jadi forward 1-2tahun ke depan. (kalo disini maka yg dipakai langsung yg 710, nah ini sifatnya judgment..)

kalo udah dapet biasanya yg "coupon" Raw FCF nya diatas 10 % maka biasanya saya nge-cek poin kualitatif SBB ;

* Business Cycle, Franchise-based quality produknya, katalis etc --> minimal reassured growth prospect diatas 10 % sustainable 2-3 tahun ke depan. strategi pertumbuhan macem apa yg diambil sama manajemen, konsisten gak sama realisasinya.. etc
* cek item2 neraca, hitung NAV kasar, overtime ROIC nya diatas biaya modal gak, employ little debt kalo bisa, kalo nggak pun di cek rate pinjaman yg dia dapat berapa. di invert andai ada situasi memburuk berapa lama kas dan asset yg ada bisa support operasi tanpa perlu tambahan capital-infusion...

kalo semuanya lancar... ya udah initiate ato build posisi. screen awalnya ya itu tadi, forecast FCF "coupon" nya kalo bisa deket2 10 %... saya track sebagian besar saham di idx dengan picture "equity-coupon" semacam ini, whenever significant correction appear, kadang yield equity ini bisa + nya diatas 2 - 3 % dari yield SUN 5 tahun, di beberapa counter yg poin kualitatif nya sudah saya labelin "solid-business" kalo pas bisa kena kejadian FCF coupon nya premium diatas SUN jauh saya biasanya tutup-mata masup... assuming si yield SUN juga gak naik parah yah.. saya juga liat2 dulu Yield SUN naik parah gak, tapi kalo ada kejadian sama2 crash seringnya kenaikan Yield coupon FCF equity overshoot kenaikan Yield SUN, whenever the premium reach above 2.5 % i'd start collect some quality stuffs at price level that i somehow perceived as "quite a bargain"...

hehe saya blon buka kursus mbah, kalo buka kursus FA kayaknya sepi peminat.. FA di sini masih rada kurang laku kayaknya haha... gapapa sih kurang laku supaya yg maen pake FA gak gitu banyak, keep it a bit edgy.. ;P
err, itungan kasar gini simpel sih mbah, dan kadang kalo saya gak sempet bikin pro-forma sendiri bisa ambil angka2 yg dibuat sama analis-analis laen. angka Ebitda, angka EV, angka net incremental working capital, angka capex biasanya gampang ditemuin kok di riset2.. bisa dibandingin juga antara 1 analis ama analis laen. pake angka yg kita liat reliable..

kalo untuk ARNA (misalnya ya ini angka kasar tembak aja saya juga gak megang data soalnya) ;

Ebitda dia 155 M
Capital Spending (35) M
Net Incr Wrkg Capital ( 5) M

FCF "Raw" 115 M

EV ARNA skrg 780 M

"Coupon" ARNA sekitar 14.74 % which is good.

tinggal diliat, seberapa besar reliabilitas dia bisa post sustainable growth diatas 10%, cek postur neraca-nya, debt-burdened gak?. berapa rate debt dia?. say misalnya revolving bank loannya aja sekitar 10-11 %, ya premium 4.75 % diatas itu kita dapet lewat equitynya not too shabby lah. tinggal upside nya dari exit multiple yg kira2 bisa kecapai dalam waktu 1-2 tahun, tinggal dicari katalisnya, mo ada CA?, mo ada earning-jump yg melebihi ekspektasi pasar?, mo ada re-rating multiple dari pasar? (mulai dicover sama big player?) etc. anggep semua katalis early exit diatas gak ada/kejadian pun kita dapet yield 14.7 % which aint too shabby.(kalo kita udah pastiin prospek bisnisnya aman yah..). tapi biasanya kita masuk kalo selain harganya murah jg dalam waktu dekat ada identifiable catalyst supaya kita bisa exit.


ya untuk ARNA tetep mesti ada cautious tone-nya, karena Q to Q operating marginnya slightly deteriorating, saya gak liat franchise qualitynya bener2 outstanding, dan harga energi akan naik (cost-wise pressure). tapiiiii harganya murah. balik lagi, setelah cek faktor2 kualitatif, tentukan pilihan kita apakah 14.75 % coupon ini worth the bet dibanding instrumen ato peluang investasi lain... simpel laah...

------------------------------------

Kita lanjutkan dengan EBITDA ....

EBITDA = Operating Profit + Depreciation

Orang bilang EBITDA ini Operating Cash Flow, tapi ingat CASH FLOW ini kata yg artinya BISA BERBEDA untuk orang Accounting, Finance dan terutama Analis saham.

Kemarin embah bingung kenapa Operating cash flow ASII itungan FCFE berbeda 10 triliun dengan Operating cash flow pada laporan Arus kas.

Cash Flow yg dipakai analis saham adalah CASH FLOW teoritis dan bukan CASH FLOW aktual atau cash flow dengan CASH BASIS pada laporan Arus Cash. Ini pendapat embah sendiri, mohon dikoreksi kalo salah...

Dan hitungan Cash Flow oleh analis saham pada metode yg berbeda juga BISA BERBEDA, jadi jangan bingung, santai aja... hehehe...

Balik ke EBITDA = Operating Profit + Depreciation

Kenapa Depreciation di ADD BACK ke Operating profit untuk mendapatkan angka cash flow EBITDA ini ?.

- Depreciation adalah Non cash expense, maksudnya begini:
- Kita beli mesin 100 juta dan dihapuskan selam 5 tahun
- Mesin dibayar cash sekaligus pada saat pembelian.
- mesin dibukukan sebagai asset pada neraca dan setiap tahun penghapusan dibukukan
pada account akumulasi penghapusan
- Jadi pada akhir tahun ke 1: Asset = 100 juta, akumulasi penghapusan = 20, Book
value = 100 -20 = 80 juta
- Pada akhir tahun ke 2: Asset tetap 100 juta, akumulasi penghapusan = 40 , book
value = 100 - 40 = 60 juta

Terlihat sesudah asset dibeli, tidak ada transaksi CASH yg melibatkan penghapusan asset ini selama 5 tahun yaitu umur asset ini.

Tapi saat menghitung Operating profit, biaya penghapusan 20 juta setahun dianggap sebagai expense dan mengurangi operating profit.

Itulah alasan kenapa analis saham meng ADD BACK Depreciation pada Laba Operasi untuk mendapatkan angka Operating Cash Flow EBITDA.

Contoh:
- Laba operasi 50 juta
- Depresiasi 100 juta
- Sanggup engga perusahaan bayar utang 90 juta saat laba operasinya CUMAN 50 juta ,
atau laba lebih kecil dari utang yg harus dibayar ?.

Anda benar.... Jadi laba operasi tidak bisa digunakan untuk mengukur KEMAMPUAN perusahaan untuk membayar utang.

Kemampuan membayar utang tergantung dari Operating Cash Flow EBITDA yaitu = Laba Operasi + Depreciation

Dulunya EBITDA ini dipakai oleh orang Finance untuk mengukur SERVICE DEBT yaitu kemampuan perusahaan untuk membayar utang dari Operating Cash Flow.

NAH SEKARANG KITA MASUK PUNCAKNYA:

- Sesudah digunakan untuk mengukur Service Debt, EBITDA kemudian digunakan Tukang
Caplok perusahaan untuk menghitung perusahaan2 mana yg murah untuk dicaplok.
- Dan sesudah itu EBITDA secara umum diterima sebagai tool standard/umum bagi
Investor mencari saham2 yg Undervalue dibursa DISELURUH DUNIA....

Jika EV/EBITDA < 6 maka perusahaan tsb dianggap murah/undervalue.

Kita lanjutakan dengan LOGIKA kenapa angka 6 dan bukan yg lain, apa logikannya ?.

Sebelum kita lanjutkan, apakah sudah jelas sebelum kita lanjutkan dengan PRAKTEK...

Kalo pake kasus seperti gini:
- Sebuah restoran ditawarkan pada anda dengan harga Enterprise Value EV = 10 miliar
- Cash Flow EBITDA setahun 2 miliar
- EV/EBITDA = 10/2 = 5 thn
- Jadi dalam 5 tahun, Jumlah Cash flow sama dengan jumlah cash flow yg dikeluarkan
saat anda beli restoran tsb.
- Dan pada akhir tahun ke 5, restoran tsb dalam keadaan utuh dan bisa anda jual lagi
dengan harga 10 miliar atau lebih.

Apakah anda berminat ?.

- Jika EV/EBITDA = 10 thn, apakah anda masih berminat ?.
- Pada EV/EBITDA diatas berapa, anda tidak minat lagi dengan restoran ini ?

Dan coba pikirkan ... embah mau istirahat dulu.... cape euy....

Good question...

Finance dan Accounting SANGAT BERBEDA dari segi akurasi perhitungan.

Orang accounting akan mencari selisih meskipun itu cuman 1 atau 2 perak karena Accounting punya fungsi CONTROL.

Orang Finance yg ngitung Cash Flow untuk ngitung kebutuhan besarnya kredit bank tidak akan peduli dengan recehan.
Akurasi mereka bisa jutaan, apalagi kalo kreditnya mencapai angka triliun.

Begitu juga untuk Valuasi saham, kita tidak terlalu akurat tapi HARUS wajar dan reasonable.

Soal debt untuk Valuasi:
- Accounting diatur dengan GAAP atau Generally Accepted Accounting procedure.
- Sedangkan Finance tidak diatur, ini yg pernah embah tanyakan pada pak Bagus soal
perlunya Analyst code yg mengatur perhitungan Valuasi yg STANDARD agar perhitungan
valuasi analis 1 tidak berbeda dengan analis 2.
- Karena Debt untuk keperluan Valuasi ini tidak diatur, maka interpretasinya bisa
berbeda2. Kita ambil aja patokan Debt yg umum dipakai untuk Valuasi yaitu Non
interest bearing debt jadi tidak termasuk utang dagang..

Kita coba PRAKTEK ngitung dulu biar engga terlalu abstrak:

Kita coba ngitung EV/EBITDA untuk ASII:
- Price ASII = 52900
- Jumlah saham = 4,048 B
- Market capitalisation = Jumlah saham x price =
4,048 x 52900 = 214,1 T
- Debt = 28,4 T
- Cash = 8,6 T
- Jadi EV = Market Cap + Debt - Cash = 214,1 + 28,4 - 8,6 = 233,9

- Operating Profit 9 bulan= 10,4 annualised= 4/3 x 10,4= 13,9 T
- Net profit 9 bln = 10,36, annualised = 13,8 T
- Accumulated dep akkhir = 16,4
- Accumulated dep awal thn = 14,3
- Jadi Depreciation 9 bln = 16,4 - 14,3 = 2,1, annualied = 2,8 T
- EBITDA = Operating Profit + depreciation = 13,9 + 2,8 = 16,7 T

EV/EBITDA = 233,9 / 16,7 = 14

EPS = Net profit / jumlah saham = 13,8 T/ 4,048 B = 3409 perak PER = Price / EPS = 52900/3409 = 15,5

Jadi kita dapatkan buat ASII: PER = 15,5 dan EV/EBITDA = 14

Note:
- EV/EBITDA ASII sudah jauh diatas 6
- Tapi ingat, dulu C&C singapore beli ASII diharga Rp 2200 sekarang sudah 52900... hehehe...

Coba kita hitung EV/EBITDA buat ARNA:

Price = 320
Jumlah saham = 1,835 B

- Market Cap = 1,835 x 320 = 587,2 B
- Debt = 270 B
- Cash = 21,2 B

Jadi EV = 587,2 + 270 -21,2 = 836 B


- Operating Profit 9bln = 115,2 B, annualised = 153,6 B
- Net Profit 9bln = 62 B , annualised = 82,7 B
- Acc. Depr akhir = 228,8
- Acc. Depr awal thn = 211,9
- Depreciation 9 bln = 228,8 - 211,9 = 16,9 , annualised = 22,5 B

EBITDA = Operating Profit + Depreciation = 153,6 + 22,5 = 176,1 B

EV/EBITDA = 836 / 176,1 = 4,7

EPS = Net profit / jml saham = 82,7 / 1,835 = 45,1 PER = Price/EPS = 320 / 45,1 = 7,1

Jadi kita dapatkan buat ARNA: PER = 7,1 dan EV/EBITDA 4,7

Kalo kita harapkan EV/EBITDA bisa mencapai:
- 8 maka kenaikan ARNA sekitar = 8-4,7/4,7 = 3,3 / 4,7 = +70%
- 10 maka kenaikan = +113%

Ratio lainnya:
- ROE = 21%
- CAGR 5 thn net profit = 18%
- CLOP sekitar 7.

Jadi ARNA emoy lah... hehehe...

- Jika sebuah emiten dilikwidasi maka Angka DER atau Debt to Equity ratio menjadi
penting karena ini menunjukan Solvabilitas.
- DER yg aman adalah: Debt sekitar 66% dari equity.
- Tapi jika perusahaanya lancar maka angka EBITDA yg diperhatikan, tapi Lender atau
bank kan tentunya harus mempertimbangkan Resiko untuk keadaan terburuk.

Kalo EV/EBITDA angkanya rendah dan Growth nya stabil, engga perlu pake Polling atau konsensus. Cukup BELI dan KEKEPIN karena buat saham yg FAnya bagus, umumnya trader engga bisa ngalahin investor.

Coba aja, ada engga trader yg bisa TEK TOK ngalahin kenaikan KKGI dan JTPE ? embah rasa engga ada yg sanggup...

Tapi kalo FAnya paspasan atau udah FA udah PRICE IN maka metode BUY and HOLD investor bisa dengan mudah dikalahkan Trader.

Embah tutup course EV/EBITDA hari ini, mudah mudahan cukup jelas....

Buat yg belum bisa menangkap secara penuh materi ini, engga jadi masalah, embah setiap hari selalu ada...

Buat yg nanya datanya dapet dari mana ?
- Laporan keuangan emiten dari web BEI
- Yg sudah disarikan bisa dilihat di investdata.net, dari Etrading dan OLT lainnya.
- Dari Reuter atau sumber lainnya.

Yang keperluannya sebatas MENGGUNAKAN EV/EBITDA tapi tidak mau menghitung karena tidak ada waktu juga oke, yg penting anda sudah MENANGKAP konsep EV/EBITDA secara baik jadi:
- Kalo ada saham tambang dengan EV/EBITDA = 15 tahun sedangkan tambangnya akan habis
ditambang dalam 5 tahun.
Anda tentu tahu bahaya kalo beli saham tambang ini.
- Kalo ada saham dengan EV/EBITDA kecil dan prospek growth nya baik, ini adalah
DUREN JATUH, ibarat beli ASII di 2200 sepuluh tahun yg lalu.
- Kalo ada saham dengan EV/EBITDA sudah tinggi tapi growthnya kecil, anda harus
hindari saham seperti ini.

Jadi usahakan MENANGKAP konsepnya EV/EBITDA karena angka ini dipakai secara MELUAS diseluruh dunia.

2 comments:

  1. Mbah,

    Saya mau tanya bagaimana mendapatkan data depresiasi di laporan keuangan emiten. saya cari di website BEI dan di HOTS etrading kok nggak muncul di data cash flow, balance sheet ataupun income statement? Mohon pencerahannya

    Trims

    ReplyDelete
  2. Mbah,

    Sharing mengenai EV/EBITDA yang mbah sampaikan ini, menarik sekali untuk nambah2 elmu.... thanks mbah.

    Masalahnya bagaimana kalau kita menghitung EV/EBITDA tsb terhadap perusahaan yang belum dibentuk sehingga kita belum tahu berapa jumlah saham dan nilai sahamnya nanti.
    Sedangkan proyek yang akan dibuat sudah dihitung ke-ekonomian-nya, Capex & Opex, termasuk methode pembiayaannya, sampai muncul estimasi neraca dan Laba/Ruginya selama 10 tahun.

    Apakah methode EV/EBITDA tsb juga bisa mem-value suatu "proyek yg akan datang tsb" agar bisa menarik minat calon partner bisnis ?

    Mohon pencerahannya, mbah
    Terima kasih.

    ReplyDelete